<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Forum Diskusi dan Komunitas Online - Cerita Rakyat]]></title>
		<link>https://ziuma.com/</link>
		<description><![CDATA[Forum Diskusi dan Komunitas Online - https://ziuma.com]]></description>
		<pubDate>Fri, 01 May 2026 14:42:53 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Legenda Perayaan Tahun Baru Imlek]]></title>
			<link>https://ziuma.com/Thread-Legenda-Perayaan-Tahun-Baru-Imlek</link>
			<pubDate>Thu, 28 Oct 2021 20:19:40 +0000</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://ziuma.com/member.php?action=profile&uid=277">kanalku</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://ziuma.com/Thread-Legenda-Perayaan-Tahun-Baru-Imlek</guid>
			<description><![CDATA[<div style="text-align: center;" class="mycode_align"><img src="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Imlek_in_Indonesia.jpg/640px-Imlek_in_Indonesia.jpg" loading="lazy"  alt="[Image: 640px-Imlek_in_Indonesia.jpg]" class="mycode_img" /><br />
</div>
<br />
Alkisah, di salah satunya dusun di negara Cina, ada satu ekor hewan buas yang disebutkan Nian. Hewan itu memiliki badan besar dan buas seperti singa. Antiknya, badan Nian bersisik emas. Secara harfiah, Nian memiliki arti tahun. Ia ada tiap tahun akhir ke dusun itu dan membuat warga dusun gemetaran ketakutan.<br />
<br />
Nian makan apa yang dijumpainya. Hasil panen, binatang ternak, bahkan juga manusia. Oleh karenanya, di hari munculnya Nian pada awal tahun, warga dusun menempatkan makanan di muka pintu rumah mereka. Khusus, untuk hewan pemangsa itu.<br />
<br />
Di suatu hari, ada satu kelompok anak kecil yang bermain di hari munculnya Nian. Mereka lupa jika Nian akan tiba di waktu itu. Dengan asyiknya, mereka menghidupkan petasan. Entahlah kenapa, Nian tidak berani dekati salah seorang anak yang menggunakan pakaian warna merah.<br />
<br />
Ia cuman berani dekati anak-anak dengan pakaian warna lain. Untunglah, di saat Nian merapat, petasan-petasan ramai meletus. Nian lari lintang pulang ke arah rimba dan sembunyi sepanjang satu tahun penuh.<br />
<br />
Warga dusun pada akhirannya tahu kekurangan hewan buas bersisik emas itu. Hewan pemangsa itu takut dengan suara petasan dan warna merah. Karena itu, semenjak itu, warga dusun atur strategi supaya Nian tidak tiba dan memakan beberapa orang dusun.<br />
<br />
Tiap tanggal 1 dan bulan 1 kalender Cina, mereka selalu kenakan pakaian warna serba merah. Di muka beberapa rumah mereka, terpasanglah rentengan petasan, lentera, dan gulungan kertas warna merah berpijar.<br />
<br />
Warga dusun serempak bersembahyang untuk meminta pelindungan. Disamping itu, mereka membagi angpao. Tujuannya untuk buang apes, dan menarik rejeki dan keselamatan.<br />
<br />
Tradisi pengusiran Nian tiap awalnya tahun pada akhirnya berkembang jadi sebuah perayaan. Guo Nian, yang memiliki arti "menyingkirkan Nian" diinterpretasikan sebagai perayaan menyongsong <a href="https://www.kanal.my.id/legenda-di-balik-perayaan-tahun-baru-imlek" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">tahun baru imlek</a>.<br />
<br />
Semenjak waktu itu, Nian tidak berani kembali lagi ke dusun. Ia tidak dikenali kehadirannya hingga kemudian ketangkap dengan seorang pendeta Tao namanya Hongzun Laozu. Nian selanjutnya jadi kendaraan individu pendeta itu.<br />
<br />
Demikian cerita classic Cina yang memicu perayaan Imlek yang dikutip dari laman <a href="https://www.kanal.my.id/" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">www.kanal.my.id</a><br />
<br />
cheer!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;" class="mycode_align"><img src="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Imlek_in_Indonesia.jpg/640px-Imlek_in_Indonesia.jpg" loading="lazy"  alt="[Image: 640px-Imlek_in_Indonesia.jpg]" class="mycode_img" /><br />
</div>
<br />
Alkisah, di salah satunya dusun di negara Cina, ada satu ekor hewan buas yang disebutkan Nian. Hewan itu memiliki badan besar dan buas seperti singa. Antiknya, badan Nian bersisik emas. Secara harfiah, Nian memiliki arti tahun. Ia ada tiap tahun akhir ke dusun itu dan membuat warga dusun gemetaran ketakutan.<br />
<br />
Nian makan apa yang dijumpainya. Hasil panen, binatang ternak, bahkan juga manusia. Oleh karenanya, di hari munculnya Nian pada awal tahun, warga dusun menempatkan makanan di muka pintu rumah mereka. Khusus, untuk hewan pemangsa itu.<br />
<br />
Di suatu hari, ada satu kelompok anak kecil yang bermain di hari munculnya Nian. Mereka lupa jika Nian akan tiba di waktu itu. Dengan asyiknya, mereka menghidupkan petasan. Entahlah kenapa, Nian tidak berani dekati salah seorang anak yang menggunakan pakaian warna merah.<br />
<br />
Ia cuman berani dekati anak-anak dengan pakaian warna lain. Untunglah, di saat Nian merapat, petasan-petasan ramai meletus. Nian lari lintang pulang ke arah rimba dan sembunyi sepanjang satu tahun penuh.<br />
<br />
Warga dusun pada akhirannya tahu kekurangan hewan buas bersisik emas itu. Hewan pemangsa itu takut dengan suara petasan dan warna merah. Karena itu, semenjak itu, warga dusun atur strategi supaya Nian tidak tiba dan memakan beberapa orang dusun.<br />
<br />
Tiap tanggal 1 dan bulan 1 kalender Cina, mereka selalu kenakan pakaian warna serba merah. Di muka beberapa rumah mereka, terpasanglah rentengan petasan, lentera, dan gulungan kertas warna merah berpijar.<br />
<br />
Warga dusun serempak bersembahyang untuk meminta pelindungan. Disamping itu, mereka membagi angpao. Tujuannya untuk buang apes, dan menarik rejeki dan keselamatan.<br />
<br />
Tradisi pengusiran Nian tiap awalnya tahun pada akhirnya berkembang jadi sebuah perayaan. Guo Nian, yang memiliki arti "menyingkirkan Nian" diinterpretasikan sebagai perayaan menyongsong <a href="https://www.kanal.my.id/legenda-di-balik-perayaan-tahun-baru-imlek" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">tahun baru imlek</a>.<br />
<br />
Semenjak waktu itu, Nian tidak berani kembali lagi ke dusun. Ia tidak dikenali kehadirannya hingga kemudian ketangkap dengan seorang pendeta Tao namanya Hongzun Laozu. Nian selanjutnya jadi kendaraan individu pendeta itu.<br />
<br />
Demikian cerita classic Cina yang memicu perayaan Imlek yang dikutip dari laman <a href="https://www.kanal.my.id/" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">www.kanal.my.id</a><br />
<br />
cheer!]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kata Kata Mutiara Mother Teresa]]></title>
			<link>https://ziuma.com/Thread-Kata-Kata-Mutiara-Mother-Teresa</link>
			<pubDate>Wed, 13 Sep 2017 09:34:02 +0000</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://ziuma.com/member.php?action=profile&uid=1234">wisma</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://ziuma.com/Thread-Kata-Kata-Mutiara-Mother-Teresa</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: x-large;" class="mycode_size"><span style="font-family: Montserrat,;" class="mycode_font">Perjalanan Hidup Mother Teresa</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa dikenal sebagai sosok yang sangat dikagumi oleh dunia internasional karena jasanya yang luar biasa terhadap kemanusiaan.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa dilahirkan di Skopje, ibu kota Republik Makedonia pada tanggal 26 Agustus 1910.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Nama kecilnya adalah Agnes Gonxha Bojaxhiu. Arti nama Gonxha di Albania adalah kuncup mawar atau bunga kecil.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Meskipun ia dilahirkan pada tanggal 26 Agustus, ia selalu menganggap bahwa ia telah dilahirkan pada pada tanggal 27 Agustus, sesuai dengan tanggal ia dibaptiskan.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"> <span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa adalah anak bungsu dari sebuah keluarga di Shkoder, Albania. Ayahnya bernama Nikolle Bojaxhiu dan ibunya bernama Drana Bojaxhiu. Sang ayah meninggal pada saat Mother Teresa berusia 8 tahun, sehingga ibunya membesarkannya sebagai seorang Katolik Roma.</span></span><br />
</span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa pada masa kecilnya senang dan kagum dengan cerita-cerita tentang kehidupan misionaris dan pelayanan yang dilakukan mereka di Benggala.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Di usianya yang menginjak 12 tahun, ia merasa terpanggil untuk melayani orang-orang miskin dan berkomitmen dalam kehidupan keagamaan. <a href="https://www.finansialku.com/kata-kata-mutiara-mother-teresa/" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">kata kata mutiara</a></span></span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: x-large;" class="mycode_size"><span style="font-family: Montserrat,;" class="mycode_font">Perjalanan Hidup Mother Teresa</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa dikenal sebagai sosok yang sangat dikagumi oleh dunia internasional karena jasanya yang luar biasa terhadap kemanusiaan.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa dilahirkan di Skopje, ibu kota Republik Makedonia pada tanggal 26 Agustus 1910.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Nama kecilnya adalah Agnes Gonxha Bojaxhiu. Arti nama Gonxha di Albania adalah kuncup mawar atau bunga kecil.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Meskipun ia dilahirkan pada tanggal 26 Agustus, ia selalu menganggap bahwa ia telah dilahirkan pada pada tanggal 27 Agustus, sesuai dengan tanggal ia dibaptiskan.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"> <span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa adalah anak bungsu dari sebuah keluarga di Shkoder, Albania. Ayahnya bernama Nikolle Bojaxhiu dan ibunya bernama Drana Bojaxhiu. Sang ayah meninggal pada saat Mother Teresa berusia 8 tahun, sehingga ibunya membesarkannya sebagai seorang Katolik Roma.</span></span><br />
</span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Mother Teresa pada masa kecilnya senang dan kagum dengan cerita-cerita tentang kehidupan misionaris dan pelayanan yang dilakukan mereka di Benggala.</span></span><br />
<span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-family: Raleway, Arial, Helvetica, sans-serif;" class="mycode_font"><span style="font-size: large;" class="mycode_size">Di usianya yang menginjak 12 tahun, ia merasa terpanggil untuk melayani orang-orang miskin dan berkomitmen dalam kehidupan keagamaan. <a href="https://www.finansialku.com/kata-kata-mutiara-mother-teresa/" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url">kata kata mutiara</a></span></span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Legenda Rawa Pening (Cerita dari Jawa Tengah)]]></title>
			<link>https://ziuma.com/Thread-Legenda-Rawa-Pening-Cerita-dari-Jawa-Tengah</link>
			<pubDate>Fri, 26 Jun 2015 12:53:09 +0000</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://ziuma.com/member.php?action=profile&uid=287">graziani</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://ziuma.com/Thread-Legenda-Rawa-Pening-Cerita-dari-Jawa-Tengah</guid>
			<description><![CDATA[<div style="text-align: center;" class="mycode_align"><img src="http://i61.tinypic.com/xfnp4y.jpg" loading="lazy"  alt="[Image: xfnp4y.jpg]" class="mycode_img" /></div>
<br />
<div style="text-align: justify;" class="mycode_align">
<br />
Dahulu kala, warga desa Ngebel terkejut melihat seekor ular yang sangat besar. Karena takut ular itu akan menyerang mereka, warga desa beramai-ramai menangkap ular yang bernama Baru Klinting itu. Setelah tertangkap ular itu dibunuh dan dagingnya disantap dalam sebuah pesta. Hanya satu warga desa yang tidak mereka ajak menikmati pesta itu, yaitu seorang nenek tua miskin bernama Nyai Latung.<br />
<br />
Beberapa hari kemudian muncul seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Ia tampak kumal dan tidak terawat, bahkan kulitnya pun ditumbuhi penyakit. Anak itu mendatangi setiap rumah dan meminta makanan kepada warga desa. Namun tak seorang pun memberinya makanan atau air minum. Mereka malah mengusirnya dan mencaci makinya.<br />
<br />
Akhirnya ia tiba di rumah yang terakhir, rumah Nyai Latung. Di depan rumah reot itu Nyai Latung sedang menumbuk padi dengan lesung.<br />
<br />
“Nenek,” kata anak itu, “Saya haus. Boleh minta air, nek?”<br />
<br />
Nenek Latung mengambil segelas air yang diminum anak itu dengan lahap. Nyai Latung memandangi anak itu dengan iba.<br />
<br />
“Mau air lagi? Kau mau makan? Tapi nenek cuma punya nasi, tidak ada lauk.”<br />
<br />
“Mau, nek. Nasi saja sudah cukup. Saya lapar,” sahut anak itu.<br />
<br />
Nenek segera mengambilkan nasi dan sisa sayur yang ada. Ia juga mengambilkan air lagi untuk anak itu,<br />
<br />
Anak itu makan dengan lahap, hingga tidak sebutir nasipun tersisa.<br />
<br />
“Siapa namamu, nak? Di mana ayah ibumu?”<br />
<br />
“Namaku Baru Klinting. Ayah dan ibu sudah tiada.”<br />
<br />
“Kau tinggal saja di sini menemani nenek,”<br />
<br />
“Terima kasih, nek. Tapi saya pergi saja. Orang-orang di sini jahat, nek. Hanya nenek saja yang baik hati kepadaku.”<br />
<br />
Baru Klinting kemudian bercerita tentang warga desa yang tidak ramah kepadanya. Kemudian, ia pun pamit. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Nyai Latung.<br />
<br />
“Nek, nanti jika nenek mendengar suara kentongan, nenek naiklah ke atas lesung. Nenek akan selamat.”<br />
Meskipun tidak mengerti maksud Baru Klinting, Nyai Latung mengiyakan saja.<br />
<br />
Baru Klinting masuk ke desa lagi. Ia mendatangi anak-anak yang sedang bermain. Ia mengambil sebatang lidi lalu menancapkannya di tanah. Lalu ia memanggil anak-anak.<br />
<br />
“Ayo... siapa yang bisa mencabut lidi ini?”<br />
<br />
Anak-anak mengejek Baru Klinting namun ketika satu per satu mereka mencoba mencabut lidi, tak ada yang berhasil. Mereka pun memanggil anak-anak yang lebih besar. Semua mencoba, semua gagal. Orang-orang dewasa pun berkumpul dan mencoba mencabut lidi. Tetap tidak ada yang berhasil.<br />
<br />
Akhirnya Baru Klinting sendiri yang mencabut sendiri lidi itu. Dari lubang di tanah bekas menancapnya lidi memancar air yang makin lama makin banyak dan makin deras. Orang-orang berlarian kalang kabut, Salah seorang membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Namun air cepat menjadi banjir dan menenggelamkan seluruh desa.<br />
<br />
Nyai Latung mendengar bunyi kentongan di kejauhan, Ia teringat pesan Baru Klinting dan segera naik ke atas lesung. Baru ia duduk di dalam lesung, air sudah datang dan makin tinggi. Lesung itu terapung-apung. Nyai Latung melihat para tetangganya sudah mati tenggelam.<br />
<br />
Setelah beberapa lama, air berhenti naik dan perlahan-lahan mulai surut. Lesung Nyai Latung terbawa menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Hanya ia yang selamat dari banjir. Warga desa yang lain semuanya tewas.<br />
<br />
Air tidak seluruhnya kering kembali namun meninggalkan genangan luas berbentuk danau yang sekarang disebut Rawa Pening. Rawa Pening terletak di daerah Ambarawa.<br />
<br />
Rawa Pening luasnya 2670 hektare. Sekarang digunakan untuk pengairan dan budi daya ikan selain juga menjadi tempat wisata. Enceng gondok yang memenuhi permukaannya digunakan untuk bahan kerajinan dan keperluan lain. Sedangkan air sungai Tuntang yang berhulu di danau itu digunakan untuk pembangkit listrik. Namun sekarang Rawa Pening mengalami pendangkalan dan dikhawatirkan lambat laun akan lenyap bila tetap dibiarkan seperti saat ini.</div>
<br />
<br />
<a href="http://resourceful-parenting.blogspot.com/2011/07/legenda-rawa-pening-cerita-dari-jawa.html" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Sumur</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;" class="mycode_align"><img src="http://i61.tinypic.com/xfnp4y.jpg" loading="lazy"  alt="[Image: xfnp4y.jpg]" class="mycode_img" /></div>
<br />
<div style="text-align: justify;" class="mycode_align">
<br />
Dahulu kala, warga desa Ngebel terkejut melihat seekor ular yang sangat besar. Karena takut ular itu akan menyerang mereka, warga desa beramai-ramai menangkap ular yang bernama Baru Klinting itu. Setelah tertangkap ular itu dibunuh dan dagingnya disantap dalam sebuah pesta. Hanya satu warga desa yang tidak mereka ajak menikmati pesta itu, yaitu seorang nenek tua miskin bernama Nyai Latung.<br />
<br />
Beberapa hari kemudian muncul seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Ia tampak kumal dan tidak terawat, bahkan kulitnya pun ditumbuhi penyakit. Anak itu mendatangi setiap rumah dan meminta makanan kepada warga desa. Namun tak seorang pun memberinya makanan atau air minum. Mereka malah mengusirnya dan mencaci makinya.<br />
<br />
Akhirnya ia tiba di rumah yang terakhir, rumah Nyai Latung. Di depan rumah reot itu Nyai Latung sedang menumbuk padi dengan lesung.<br />
<br />
“Nenek,” kata anak itu, “Saya haus. Boleh minta air, nek?”<br />
<br />
Nenek Latung mengambil segelas air yang diminum anak itu dengan lahap. Nyai Latung memandangi anak itu dengan iba.<br />
<br />
“Mau air lagi? Kau mau makan? Tapi nenek cuma punya nasi, tidak ada lauk.”<br />
<br />
“Mau, nek. Nasi saja sudah cukup. Saya lapar,” sahut anak itu.<br />
<br />
Nenek segera mengambilkan nasi dan sisa sayur yang ada. Ia juga mengambilkan air lagi untuk anak itu,<br />
<br />
Anak itu makan dengan lahap, hingga tidak sebutir nasipun tersisa.<br />
<br />
“Siapa namamu, nak? Di mana ayah ibumu?”<br />
<br />
“Namaku Baru Klinting. Ayah dan ibu sudah tiada.”<br />
<br />
“Kau tinggal saja di sini menemani nenek,”<br />
<br />
“Terima kasih, nek. Tapi saya pergi saja. Orang-orang di sini jahat, nek. Hanya nenek saja yang baik hati kepadaku.”<br />
<br />
Baru Klinting kemudian bercerita tentang warga desa yang tidak ramah kepadanya. Kemudian, ia pun pamit. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Nyai Latung.<br />
<br />
“Nek, nanti jika nenek mendengar suara kentongan, nenek naiklah ke atas lesung. Nenek akan selamat.”<br />
Meskipun tidak mengerti maksud Baru Klinting, Nyai Latung mengiyakan saja.<br />
<br />
Baru Klinting masuk ke desa lagi. Ia mendatangi anak-anak yang sedang bermain. Ia mengambil sebatang lidi lalu menancapkannya di tanah. Lalu ia memanggil anak-anak.<br />
<br />
“Ayo... siapa yang bisa mencabut lidi ini?”<br />
<br />
Anak-anak mengejek Baru Klinting namun ketika satu per satu mereka mencoba mencabut lidi, tak ada yang berhasil. Mereka pun memanggil anak-anak yang lebih besar. Semua mencoba, semua gagal. Orang-orang dewasa pun berkumpul dan mencoba mencabut lidi. Tetap tidak ada yang berhasil.<br />
<br />
Akhirnya Baru Klinting sendiri yang mencabut sendiri lidi itu. Dari lubang di tanah bekas menancapnya lidi memancar air yang makin lama makin banyak dan makin deras. Orang-orang berlarian kalang kabut, Salah seorang membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Namun air cepat menjadi banjir dan menenggelamkan seluruh desa.<br />
<br />
Nyai Latung mendengar bunyi kentongan di kejauhan, Ia teringat pesan Baru Klinting dan segera naik ke atas lesung. Baru ia duduk di dalam lesung, air sudah datang dan makin tinggi. Lesung itu terapung-apung. Nyai Latung melihat para tetangganya sudah mati tenggelam.<br />
<br />
Setelah beberapa lama, air berhenti naik dan perlahan-lahan mulai surut. Lesung Nyai Latung terbawa menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Hanya ia yang selamat dari banjir. Warga desa yang lain semuanya tewas.<br />
<br />
Air tidak seluruhnya kering kembali namun meninggalkan genangan luas berbentuk danau yang sekarang disebut Rawa Pening. Rawa Pening terletak di daerah Ambarawa.<br />
<br />
Rawa Pening luasnya 2670 hektare. Sekarang digunakan untuk pengairan dan budi daya ikan selain juga menjadi tempat wisata. Enceng gondok yang memenuhi permukaannya digunakan untuk bahan kerajinan dan keperluan lain. Sedangkan air sungai Tuntang yang berhulu di danau itu digunakan untuk pembangkit listrik. Namun sekarang Rawa Pening mengalami pendangkalan dan dikhawatirkan lambat laun akan lenyap bila tetap dibiarkan seperti saat ini.</div>
<br />
<br />
<a href="http://resourceful-parenting.blogspot.com/2011/07/legenda-rawa-pening-cerita-dari-jawa.html" target="_blank" rel="noopener" class="mycode_url"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Sumur</span></a>]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>