Forum Diskusi dan Komunitas Online
Memaknai Hakikat Lebaran - Printable Version

+- Forum Diskusi dan Komunitas Online (https://ziuma.com)
+-- Forum: Area Bebas (https://ziuma.com/Forum-Area-Bebas)
+--- Forum: Artikel Bebas (https://ziuma.com/Forum-Artikel-Bebas)
+--- Thread: Memaknai Hakikat Lebaran (/Thread-Memaknai-Hakikat-Lebaran)



Memaknai Hakikat Lebaran - Shelvi - 16 May 2019

Bangsa Indonesia tidak saja memaknai Lebaran atau Idul Fitri sebagai hari raya atau hari kemenangan saja, namun memaknainya sebagai format penguatan silaturrahim salah satu keluarga, tetangga, dan masyarakat dengan saling memberikan maaf dari lubuk hati yang terdalam. Bukan hanya tradisi promo lebaran 2019, tradisi memaafkan juga tidak lepas dari arti Idul Fitri sendiri. Kelapangan dada dalam arti ini turut mengecat Idul Fitri sampai-sampai masyarakat Indonesia menyebutnya Lebaran, asal kata lebar, dengan kata lain lapang.

[Image: PSmVB60.jpghttp:]

Tradisi saling mengunjungi dan silaturahim ini bahkan tidak ada pada umat Islam di negara lain. Sesudah Shalat Idul Fitri, mereka langsung beranjak ke rumah kerabat dan ikut merayakannya bersama keluarga. Berbeda dengan Indonesia yang bisa menciptakan harmonisasi kehidupan bagi memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan terlahir kembali suci dengan masyarakat banyak. Alasan kuatnya menyambung silaturrahim di momen Idul Fitri ini yang turut membuat tradisi mudik atau pulang dusun menjelang tibanya Lebaran. 

Berkumpul bareng keluarga, saudara, dan handai taulan di tanah kelahiran. Bahkan yang belum sempat pulang ke desa menjelang lebaran sebab tidak menemukan tiket mudik atau masih harus dinas di kota, mereka melakukannya setelah Lebaran. Berbagai kuliner dan santapan khas pun disuguhkan masyarakat Muslim Indonesia guna menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Ketupat, lontong, opor ayam, dan makanan-makanan khas lainnya. Makanan khas it juga tidak saja sebatas makanan, namun memiliki filosofi dan arti yang dalam.

Makna Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri untuk sebagian masyarakat Indonesia memiliki makna yang paling sakral, sampai-sampai jauh-jauh hari masyarakat sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan hari Lebaran ini. Mulai dari pulang ke kampung halaman, mempersiapkan pakaian baru guna bersilaturahim, melengkapi perabot rumah supaya menjadi estetis ketika tamu berkunjung, dan menyiapkan beraneka minuman dan makanan. Namun beberapa orang ada yang terlampau memaksakan diri guna mewujudkan urusan itu walaupun di luar batas kemampuannya. Bahkan sering berujung pada terganggunya hubungan dengan pasangan. Hari raya Idul Fitri juga harus tampil segar dengan merawat diri. Produk perawatan diri yang berkualitas seperti SK II bisa sangat membantu Anda.

Waktunya tidak sedikit terkuras guna mempersiapkan lebaran, sampai-sampai menjadikan Ramadhan sebagai suatu rutinitas belaka tanpa menyadari mengenai hakikat dan keistimewaan bulan suci Ramadhan yang hanya muncul sekali dalam satu tahun. Sebagian orang merasa tidak cukup afdhal andai tidak menggunakan atau memakai sesuatu yang baru di ketika lebaran. Sebenarnya Lebaran tidaklah hanya identik dengan sesuatu yang baru, namun sejatinya ia lebih pada kebersihan jiwa dan rasa tulus untuk Allah dalam mengemban perintah-Nya.

Menyiapkan ragam makanan dan minuman di rumah saat lebaran sah-sah saja dilakukan bilamana dilandasi dengan niat yang murni dan tulus karena Allah. Tetapi tidak boleh sampai memberatkan diri dan melampau batas serta membias dari doktrin agama, contohnya karena hendak mendapat pujian dan sanjungan. Unsur riya‘ dengan memamerkan kekayaan, bersikap mubazir dan lain-lain adalah sifat iblis yang mesti dijauhi.

Idul Fitri untuk umat Islam adalah hari bergembira dan hari kemenangan sebab telah sukses dalam menggapai kebersihan sehingga pulang kepada suasana fitrah, yang dalam konteks ini berarti berpulang pada asal kejadiannya yang suci dan mengekor petunjuk Islam yang benar. Ramadhan paling erat kaitannya dengan Idul Fitri sebab ibadah puasa adalah suatu proses berkesinambungan yang melatih insan untuk mendapat gelar muttaqin sampai-sampai diibaratkan laksana bayi yang baru bermunculan dari rahim ibunya.

Maka lumrah ia bergembira sebab telah lulus dalam madrasah Ramadhan yang tetap menjiwai motivasi Ramadhan di luar Ramadhan. Orang-orang muttaqin tidak melokalisir kesalehan terus menerus di bulan Ramadhan, namun mereka memborgol setan, nafsu dan menghambakan diri selalu kepada Allah di luar Ramadhan. Selalu berjuang untuk menumbuhkan rasa cinta untuk Allah Swt dan Rasul-Nya sebab menyadari bahwa Allah tersebut benar-benar ada, Maha Melihat, dan pertolongan-Nya tersebut dekat dan benar-benar siksa-Nya tersebut berat.