Forum Diskusi dan Komunitas Online

Full Version: Pentingnya Mengetahui Cara Kerja Obat Rematik DMARDs
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Obat rematik DMARDs (Disease-modifying Antirheumatic Drugs) berfungsi untuk mengurangi peradangan pada pasien penderita penyakit rematik. Disebut juga sebagai rheumatoid athritis, rematik merupakan penyakit peradangan akibat kondisi autoimun seseorang. Selain berfungsi untuk mengobati rematik, DMARDs sendiri dapat digunakan ntuk radang sendi psoriatik, ankylosing spondylitis, dan lupus erythematosus sistemik. Untuk mengetahui tentang cara kerja dan jenis obat DMARDs, berikut akan diulas lebih lanjut.

Pengertian obat DMARDs
Tidak hanya kondisi autoimun saja, obat DMARDs juga bisa digunakan untuk berbagai penyakit seperti radang usus (IBD), kanker, myositis, dan vasculitis. DMARDs bukanlah obat penghilang rasa sakit meski ketika digunakan, obat ini akan berfungsi mengurangi nyeri yang dialami pasien. DMARDs akan mengurangi nyeri terutama akibat peradangan namun tidak mengobati gejala secara langsung sehingga berfokus pada penyebab dasar penyakit yang diobati. Dengan begitu, efek obat DMARDs tidak akan terjadi secara instan dan lansung. DMARDs akan memperlambat perkembangan penyakit dan seiring waktu pengobatan yang dilakukan akan mengurangi gejala penyakit tersebut. Obat DMARDs sendiri terbagi menjadi obat konvensional dan obat biologis.

Obat rematik DMARDs konvensional
Obat rematik DMARDs konvensional bekerja secara perlahan dan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk merasakan efeknya. Obat ini tidak bersifat spesifik dan memiliki target pada seluruh sistem imun. Perubahan yang dialami tidak akan signifikan jika penggunaan obat tidak teratur. Berikut ini merupakan beberapa obat rematik DMARDs konvensional.
Leflunomide
Sulfasalazine (SSZ)
Methorexate (MTX)
Klorokuin
Azathioprine
Minocycline
Cyclophospamide
Hydroxychloroquine
Ciclosporin

Obat rematik DMARDs biologis
Berbeda dengan obat rematik DMARDs konvensional, obat rematik DMARDs biologis dapat bekerja lebih cepat. Obat ini memiliki target spesifik dalam proses peradangan. Dengan begitu, penggunaan DMARDs biologis akan menghilangkan kemungkinan tubuh mengalami radang. Obat DMARDs biologis diberikan dalam bentuk suntikan. Berikut ini merupakan beberapa jenis obat rematik DMARDs biologis.
Abatacept
Anakinra
Adalimumab
Etanercept
Rituximab
Toxilizumab
Infliximab
Meski obat rematik DMARDs biologis dapat bekerja lebih cepat namun risiko dan efek samping yang ditimbulkan juga lebih besar dibandingkan obat konvensional. Oleh karena itu, secara prosedur, DMARDs biologis baru akan diberikan setelah pengobatan DMARDs konvensional dijalankan dan tidak berhasil. Penggunaan DMARDs biologis ini juga bisa dilakukan bersamaan dengan DMARDs konvensional sesuai dengan petunjuk dari dokter.

Obat lain untuk rematik
Untuk mengatasi rematik, tentunya terdapat berbagai cara. Selain obat DMARDs konvensional dan DMARDs biologis, terdapat berbagai obat lain yang bisa digunakan dalam rangka menyembuhkan penyakit rematik. Berikut ini merupakan beberapa obat rematik lain yang bisa Anda jadikan pilihan.
Penghambat janus kinase berupa tofacitinib dan baricitinib. Obat ini bisa digunakan apabila pemberian DMARDs biologis tidak berhasil.
Asetaminofen dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Meski demikian, risiko berupa kerusakan hari perlu diwaspadai jika mengonsumsi asetaminofen berlebihan.
Kortikosteroid dalam bentuk oral dan suntik juga dapat mengatasi rematik. Obat ini tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi dalam jangka panjang.
Obat antiperadangan nonstreroid cukup efektif digunakan untuk mencegah terjadinya radang.

Obat rematik DMARDs dapat menimbulkan efek samping baik obat konvensional ataupun obat biologis. Efek samping yang ditimbulkan berbeda-beda tergantung jenis obat yang dikonsumsi. Pada obat konvensional, efek samping yang mungkin muncul seperti mual, gusi bengkak, kelelahan, hingga diare di awal pengobatan. Pada DMARDs biologis, efek samping yang muncul lebih berbahaya seperti peningkatan risiko terinfeksi tuberkulosis laten, hepatitis, dan CMV. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, Anda dapat menanyakan pada dokter melalui aplikasi SehatQ secara online.