Forum Diskusi dan Komunitas Online

Full Version: Perbedaan Depresi Pascapersalinan dengan Baby Blues
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pascamelahirkan, kondisi psikologis sang ibu sangat mudah terpengaruh. Bahkan 1 dari 10 perempuan yang baru melahirkan diklaim akan memiliki masalah psikologis dalam peran barunya tersebut, entah itu berupa baby blues ataupun masuk ke tahap depresi pascapersalinan.
Kedua masalah psikologi pada ibu pascamelahirkan ini kerap dinilai sama oleh sebagian pihak. Pasalnya, keduanya memang merupakan masalah psikologis pascamelahirkan. Namun sebenarnya, keduanya berbeda dan penanganannya pun tidak bisa disamakan.

Karena itu, alangkah lebih baik Anda mengetahui perbedaan antara depresi pascapersalinan dan baby blues. Jika suda mengetahui bedanya, langkah penanganan yang bisa Anda ambil untuk mengatasi masalah psikologis tersebut juga dapat lebih tepat dna waktu penyembuhan bisa lebih singkat. Nah, berikut ini adalah beberapa perbedaan antara depresi pascapersalinan atau yang dikenal sebagai postpartum depression dengan baby blues.

1. Waktu Kemunculan
Jika dalam beberapa hari setelah melahirkan Anda merasakan adanya masalah terkait psikologis, bisa dikatakan Anda sedang terkena baby blues. Masalah psikologis pascapersalinan ini umumnya mulai terlihat dalam 1—2 minggu setelah waktu melahirkan.

Sementara itu pada kasus depresi pascapersalinan, tanda-tanda masalah psikologis yang Anda alami cenderung tidak langsung ditemukan. Anda mungkin baru merasa stres hingga menghambat perawatan ke anak memasuki bulan kedua setelah persalinan.

2. Periode Masalah
Ketika Anda mengalami baby blues, Anda cenderung akan lebih cepat mengatasinya. Masalah psikologis pascapersalinan ini umumnya hanya akan berlangsung tidak sampai dua bulan. Namun, ada dua kemungkinan dalam hal pemulihannya. Jika berhasil, kondisi psikologis Anda akan membaik. Jika tidka berhasil, baby blues bisa mengarah pada masalah depresi pascapersalinan.

Depresi pascapersalinan memerlukan waktu pemulihan lebih lama-lama. Rata-rata ibu yang mengalami jenis depresi ini membutuhkan waktu hingga satu untuk bisa menstabilkan kondisi psikologisnya. Ada kemungkinan kondisi psikologis sang ibu bisa semakin parah jika kondisi sosial di sekitarnya tidak mendukung serta tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

3. Faktor Penyebab
Baby blues umumnya akan dialami oleh seorang ibu yang baru melahirkan karena adanya penolakan terhadap perubahan kondisi fisiologi pada dirinya. Penolakan tersebut tidka semata terjadi karena adanya perubahan kondisi fisilogis setelah melahirkan, melainkan akumulasi dari rasa perubahan yang dialami selama kehamilan, seperti rasa nyeri, perubahan bentuk badan, kekuatan fisik, sampai gangguan pola tidur.

Berbeda dengan depresi pascapersalinan. Penyebab masalah psikologi ini lebih mengarah pada kekhawatiran sang ibu terhadap kondisinya setelah memiliki anak. Kekhawatiran tersebut memberikan ia ketakutan sehingga berujung stres yang sulit dikendalikan.

4. Gejala Penyerta
Walaupun sama-sama merupakan masalah psikologis yang dialami ibu yang baru melahirkan, gejala yang melingkupi penderita baby blues dan depresi pascapersalinan jelas berbeda. Gejala yang dialami oleh ibu yang menderita baby blues lebih ke arah mood yang tidak teratur dan rasa lelah. Gejala tersebut pun tidak bersifat menetap, namun muncul dan hilang dalam waktu yang tidak teratur.

Sementara itu, depresi pascapersalinan memiliki gejala yang lebih ekstrem. Rasa sedih dan lelah menjadi indikasi yang paling kuat pada penderitanya. Namun, rasa tersebut lebih bersifat menetap dan sulit hilang. Sampai pada gejala yang parah, sang ibu akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan kontak dengan bayinya karena perasaan sedih dan lelah yang tak bisa dibendung.

5. Keparahan Dampak
Perbedaan paling menonjol antara baby blues dengan depresi pascapersalinan terletak pada dampak yang ditimbulkan. Pada kasus penderita baby blues, gangguan psikologis hanya akan memengaruhi kondisi psikologi dalam waktu yang relatif singkat. Adanya rasa lelah dan emosi pun jauh lebih mudah dibendung.

Sementara itu pada penderita depresi pascapersalinan, dampak yang lebih parah siap menanti. Tidak jarang ibu yang menderita depresi pascapersalinan akan menjadi membenci anaknya sendiri. Bahkan ia akan merasakan sakit fisik yang sulit dijelaskan.
***
Sekarang sudah tidak bingung bukan perbedaan antara baby blues dengan depresi pascapersalinan? Jika sudah tahu bedanya, penanganan yang lebih spesifik pun diharapkan dilakukan supaya gejala yang timbul tidka semakin parah. Selamat berjuang untuk para ibu dan ayah baru