Forum Diskusi dan Komunitas Online

Full Version: Menorrhagia atau Hipermenorea Vs Hipomenorea, Lebih Bahaya Mana?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Ada banyak kondisi yang menyebabkan seorang wanita mengalami gangguan pada siklus haid atau menstruasi mereka. Umumnya, kondisi-kondisi tersebut dikelompokkan atau diklasifikasikan berdasarkan jenis gangguannya. Salah satu klas atau pengelompokan tersebut berdasarkan jumlah dan durasi pendarahan. Ada dua kelainan di sana, yakni menorrhagia dan hipomenorea.

Berikut penjelasan lebih lanjut dari kedua kelainan yang masuk ke dalam kelompok “jumlah dan durasi pendarahan” tersebut:
1. Menorrhagia
Menorrhagia atau dikenal juga dengan hipermenorea adalah kondisi di mana seorang wanita mengalami pendarahan haid dengan jumlah lebih banyak dan durasi lebih lama dari yang lain.

Jika pada wanita normal menstruasi atau haid berlangsung selama 3 sampai 8 hari, wanita yang mengalami menorrhagia bisa menjalani “periode kewanitaan” tersebut lebih dari 8 hari. Sementara itu, jika dalam sehari wanita normal mengeluarkan darah haid sebanyak 80 mililiter, mereka yang mengalami kondisi ini lebih banyak dari jumlah tersebut.

Kedua gejala atau kondisi tersebut bisa dirasakan secara bersamaan, bisa juga hanya terjadi salah satu di antaranya saja. Terkadang, darah haid yang dikeluarkan oleh penderita menorrhagia juga dapat berupa gumpalan-gumpalan.

Banyak penderita menorrhagia atau hipermenorea merasa terganggu. Pasalnya, mereka perlu mengganti pembalut lebih sering daripada wanita yang tidak mengalaminya, kondisi ini jelas menjadikan mereka jauh lebih repot.

Selain itu, haid yang berlangsung berkepanjangan dengan jumlah darah keluar yang terlalu banyak setiap harinya dapat menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak darah sehingga memicu terjadinya anemia. Terdapat tanda-tanda anemia, seperti napas lebih pendek, mudah lelah, pucat, kurang konsentrasi, dan sebagainya. Belum lagi masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi psikologis mereka.
Penyebab dari kondisi ini dikelompokkan berdasarkan kemungkinan kelainan yang dialami oleh penderitanya, seperti:

 Kelainan organik:
• Infeksi saluran reporduksi
• Kelainan koagulasi (pembekuan darah), misal: akibat von willebrand disease, kekurangan protrombin, idiopatik trombositopenia purpura (ITP), dll
• Disfungsi organ yang menyebabkan terjadinya menoragia seperti gagal hepar atau gagal ginjal. Penyakit hati kronik dapat menyebabkan gangguan dalam menghasilkan faktor pembekuan darah dan menurunkan hormon estrogen.
 Kelainan hormon endokrin:
Seperti kondisi-kondisi yang terjadi pada kelenjar tiroid dan kelenjar adrenal, tumor pituitari, siklus anovulasi, Sindrome Polikistik Ovarium (PCOS), kegemukan, dan lain sebagainya.
 Kelainan anatomi rahim:
Terdapat mioma uteri, polip endometrium, hiperplasia endometrium, kanker dinding rahim, dan lain sebagainya.
 Iatrogenik:
Semisal akibat pemakaian IUD, hormon steroid, obat-obatan kemoterapi, obat-obatan anti-inflamasi, dan obat-obatan antikoagulan.

2. Hipomenorea
Kelainan pada siklus haid ini kembalikan dari menorrhagia. Ya, hipomenorea dapat dipahami sebagai kondisi di mana jumlah dan durasi pendarahan dalam satu siklus haid lebih sedikit atau pendek dari umumnya.
Wanita yang mengalami hipomenorea biasanya hanya memiliki durasi haid kurang dari tiga hari dan hanya kehilangan 30 sampai 40 mililiter per harinya. Padahal, siklus normal terjadi selama 3 sampai 8 hari dengan jumlah darah yang dikeluarkan 80 mililiter setiap harinya.
Penyebab hipomenorea ini tidak serumit atau sebanyak penyebab dari hipermenorea atau menorrhagia. Penyebab kelainan ini umumnya adalah hal-hal di luar penyakit, seperti stres, menopause, anoreksia atau gangguan makan, hingga keletihan.
Cara penanganan dari kondisi ini pun lebih sederhana, kecuali jika ditemukan penyebab lain yang cenderung serius, meski amat jarang. Hipomenorea bisa diatasi dengan mengubah gaya hidup atau menjaga kondisi kesehatan mental dan psikis tetap dalam kondisi yang baik.
Kadang pemberian konseling psikoterapi dan penenangan diri juga dibutuhkan untuk mengembalikan durasi dan jumlah darah pada masa haid ke kondisi yang normal.

***
Jika dilihat secara lebih saksama, menorrhagia dapat dibilang lebih kompleks dari hipomenorea. Hal ini menjadikan menorrhagia atau hipermenorea cenderung lebih berbahaya ketimbang hipomenorea.
Ada klaim bahwa hipomenorea sama sekali tidak memengaruhi tingkat fertilitas atau kesuburan seorang wanita. Sementara menorrhagia, ditilik dari penyebabnya, bisa saja mengganggu kemampuan wanita menghasilkan anak.
Kendati demikian, walau terkesan lebih enteng dari menorrhagia, hipomenorea juga tak dapat dipandang sebelah mata. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan terlampau sering, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter terkait.