Forum Diskusi dan Komunitas Online

Full Version: Dialisis Vs Transplantasi Ginjal, Metode Mana yang Terbaik?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
[Image: transplantasi-ginjal.jpg]
Salah satu penyakit yang menjadi momok sejumlah manusia adalah gagal ginjal. Pasalnya, penyakit ini selalu diikuti dengan bayang-bayang kematian untuk para pengidapnya. Selain itu, pengobatan penyakit ini terbilang panjang, rumit, dan mahal. Selain cuci darah, ada metode lain yang untuk mengatasi kondisi ini, yakni transplantasi ginjal.
Ginjal sendiri merupakan bagian dari sistem perkemihan yang bertugas membuang limbah sisa produk dalam bentuk urin. Ketika gagal ginjal, limbah akan menumpuk dalam tubuh dan akan berujung pada kematian. “Limbah” itu bisa juga disebut uremia, ia terdapat di dalam aliran darah. Ketika jumlah uremia mencapai tingkat tertentu, pasien akan mulai merasa sakit. Jika tingkatannya semakin tinggi, kemungkinan pasien akan meninggal.
Sebelum transplantasi ginjal marak dilakukan seperti beberapa waktu belakangan, pengobatan gagal ginjal mengenal cuci darah, atau yang dalam istilah medis disebut dialisis. Meski sama-sama masih dipertahankan, tetapi ada “jurang” perbedaan antar-keduanya. Apa saja perbedaan antara dialisis dan tranplantasi ginjal? Mana yang lebih baik? Atau pertanyaan-pertanyaan lain mengenai dua metode tersebut akan coba dijawab dalam artikel ini.
¾   Transplantasi Ginjal
Transplantasi ginjal adalah operasi yang bertujuan menangani gagal ginjal. Prosedur ini meliputi penggantian satu atau kedua ginjal pasien dengan ginjal sehat dari pendonor, baik pendonor yang masih hidup atau sudah meninggal.
Setelah menjalani prosedur transplantasi ginjal, pasien biasanya akan diberi obat-obatan imunosupresan untuk menekan sistem imun. Tujuannya adalah mencegah sistem kekebalan tubuh pasien menyerang ginjal donor yang dianggapnya sebagai benda asing.
¾   Dialisis atau Cuci Darah
Cuci darah adalah suatu tindakan yang mengambil alih fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal yang berfungsi untuk mengeluarkan limbah tubuh. Ketika dokter menyarankan bahwa pasien sebaiknya melakukan cuci darah, langkah ini akan dilakukan oleh pasien seumur hidupnya.
Saat pencucian darah, harapan hidup pasien adalah 5 sampai 10 tahun, tetapi terdapat pula kasus di mana pasien dapat hidup normal dengan cuci darah selama lebih dari 30 tahun. Namun, statistik menunjukkan bahwa 1 dari 4 pasien yang melakukan cuci darah tidak akan bertahan dalam waktu satu tahun.
Terdapat dua jenis cuci darah: cuci darah peritoneal dan hemodialisis. Pada tindakan cuci darah peritoneal, jaringan tubuh pasien pada rongga perut digunakan untuk menyaring limbah tubuh. Tindakan ini melibatkan penempatan kateter cuci darah ke dalam rongga perut. Cairan khusus kemudian dimasukkan melalui kateter untuk mencuci rongga perut dan usus. Dinding rongga perut kemudian akan bertindak sebagai penyaring antara cairan dan aliran darah.
Sementara itu, tindakan hemodialisis membutuhkan penggunaan mesin cuci darah, berfungsi sebagai selaput cuci darah. Darah pasien diarahkan ke dalam mesin yang berfungsi untuk menyaring dan mengembalikan darah yang telah dibersihkan kembali ke dalam tubuh pasien. Mereka yang melakukan hemodialisis akan melakukan tindakan ini sebanyak tiga kali seminggu selama 3 sampai 5 jam per sesi.
¾   Lantas, mana yang lebih baik, transplantasi ginjal atau cuci darah?
Secara umum, pasien yang memilih metode dialisis atau cuci darah harus “berkorban” banyak. Pasalnya, tindakan ini dibutuhkan pasien untuk sepanjang masa hidupnya. Artinya, dalam jangka waktu itu, pasien harus mengeluarkan sejumlah uang, menghabiskan banyak waktu, dan hal-hal lain terkait dengan itu.
Lebih jauh, dialisis dinilai tak lagi praktis di zaman sekarang dan digadang-gadang “menyiksa” si pasien itu sendiri. Mereka yang menjalani cuci darah selama bertahun-tahun akan kehilangan fungsi ginjalnya secara bertahap dan akhirnya berujung pada kematian selama transplantasi tidak dilakukan.
Saat ini, banyak kalangan menilai bahwa alternatif penyembuhan gagal ginjal yang paling efektif saat ini adalah dengan melakukan proses transplantasi ginjal. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Lye Wai Choong seorang ahli transplantasi ginjal dari Mount Elizabeth Medical Centre dan ParkwayHealth. Pasalnya, transplantasi ginjal memiliki beragam keunggulan jika dibandingkan dengan metode cuci darah.
Namun, keunggulan yang menjadi sorotan utama ialah, transplantasi ginjal memberikan “jaminan” lebih besar untuk pasien terkait kualitas hidupnya. Selain itu, metode ini juga diyakini dapat menekan angka risiko kematian pada pasien. Kemudian, pasien yang mengalami transplantasi ginjal tidak diharuskan membatasi pola makannya, hal yang jauh berbeda kepada mereka yang memilih cuci darah karena metode lama itu mengharuskan si pasien menghindari beberapa jenis makanan atau minuman.
Akan tetapi, di Indonesia salah satu kendala utama dalam transplantasi ginjal adalah menemukan pendonor. Banyaknya daftar tunggu donor pada pasien gagal ginjal di Indonesia menyebabkan penderita gagal ginjal harus bersabar menunggu lebih lama. Data menyebutkan bahwa tidak lebih dari satu persen penderita gagal ginjal yang melakukan transplantasi ginjal.