Forum Diskusi dan Komunitas Online

Full Version: WISATA HALAL DANAU TOBA
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Baru-baru ini Gubernur Sumatera Utara Bapak Eddy Rahmayadi mencetuskan ide penerapan wisata halal di Kawasan Danau Toba dan kini menjadi polemik dan viral di Surat Kabar maupun media sosial. Berbagai ejekan dan amarah datang dari beberapa komunitas dan individu warga Batak Toba, baik yang berdiam di kawasan Danau Toba maupun para perantau yang sukses berkarir di luar tanah Batak. Anehnya ada yang malah menanggapi dengan caci maki dan bahasa-bahasa yang kurang etis sehingga semakin ramai.

Sebenarnya, bagi individu yang bisa berfikir sehat seharusnya tidak perlu bersikap responsif negatif menyikapinya. Alangkah baiknya sebelum merespon sesuatu yang dianggap baru, haruslah dipelajari lebih dalam tentang apa yang dimaksud dengan wisata halal dan kelak bila ada wisata halal danau toba, tidak lagi menjadi polemik bagi masyarakat. Namun yang terjadi adalah reaksi yang tanpa argumentasi. Tidak faham namun bikin ribut. Lebih dari itu telah terjadi pergeseran istilah dari wisata halal menjadi wisata syari'ah sehingga kedengaran semakin ekstrim. 

Salah satu dalam catatan kami adalah sikap masyarakat merespon ide tersebut dengan aksi yang bertolak belakang yaitu adanya keinginan sebagian masyarakat untuk membuat festival kuliner berbahan babi di Danau Toba. Padahal masalahnya sederhana saja, di mana mereka tidak memahami apa itu wisata halal. Ada juga yang berkomentar, bila tidak senang dengan Danau Toba, tidak usah datang ke Danau Toba. Aneh... Padahal wisata halal adalah suatu ide baru yang diluncurkan untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan muslim agar mereka nyaman berwisata sambil menikmati paket tour danau toba yang mereka sukai itu. Tidak ada paksaan bahwa wisata halal harus di menggunakan hotel dan restoran milik orang muslim dan harus dilayani oleh orang muslim. Bukan itu. Yang penting adalah tour ke pulau samosir di mana disiapkan di dalam setiap kamar hotel petunjuk arah kiblat dan sajadah kemudian makan di restoran bersertifikat halal. Bukan pemilik hotel dan restoran serta pelayan yang muslim.

Kita berharap ke depan, masyarakat semakin faham dan pariwisata Indonesia bangkit.

[Image: IMG-20190615-WA0050.jpg]