Iklim dan Cuaca Mempengaruhi Penularan Virus Dengue




 
#1

[Image: ririh_696x402.jpg]


Berada di lintasan garis khatulistiwa, Indonesia tak lepas dari dampak penyakit tropis. Sejumlah penyakit tropis yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) terus menjadi momok di Nusantara, khususnya wilayah perkotaan.


Guru Besar Ilmu Kesehatan Lingkungan Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc, mengatakan penduduk perkotaan lebih rentan terkena virus dengue yang ditularkan oleh vektor berupa nyamuk Aedes aegypti. Sebab, penduduk urban tinggal di lingkungan pemukiman yang memiliki tingkat densitas tinggi.

Di Surabaya, setiap tahunnya kasus DBD selalu terjadi di sejumlah kawasan di Surabaya seperti Sawahan dan Tambaksari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswaprogram doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat, virus dengue juga sudah menjangkiti kawasan-kawasan di Makassar seperti Toraja.

“Bahkan, di tempat penampungan air, telur nyamuk itu sudah mengandung virus dengue,” tutur Ririh.
Mengapa virus dengue lebih mudah ditularkan di kawasan perkotaan? Ririh menjelaskan, vektor Aedes aegypti memiliki jarak terbang yang rendah. Hanya seratus meter.
Namun, Ririh menambahkan dataran tinggi juga perlu waspada dengan penyakit DBD karena virus ini juga sudah menjangkiti daerah-daerah sekitar pegunungan.
Sebab pada dasarnya, nyamuk Aedes aegypti bersifat anthropophilic yakni lebih menyukai darah manusia.

“Manusia memiliki tiga tipe kelenjar kulit salah satunya kelenjar eccrine. Kelenjar ini mengandung molekul carboxylic yang membedakan antara bau manusia dan mamalia lainnya. Kelenjar inilah yang dalam penciuman nyamuk Aedes aegypti sangat membangkitkan selera untuk menggigit maupun menghisap darah,” tutur Ririh yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor, Sabtu (8/7).

Peran ramalan cuaca
Peningkatan curah hujan akan meningkatkan kelembaban dan temperatur. Hal ini akan mendukung seluruh aktivitas nyamuk termasuk memperpanjang umur dan bereproduksi. Vektor Aedes aegypti akan berkembang secara optimum pada temperatur 20–28 derajat Celcius.

Umur nyamuk yang lebih panjang akan meningkatkan peluang bagi virus dengue untuk menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsiknya. Indonesia, sebagai negara tropis dengan suhu udara 16–32 derajat Celcius dan kelembaban relatif 60–80 persen merupakan ruang yang ideal untuk mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.


Apalagi belakangan cuaca di Indonesia, termasuk Surabaya dan sekitarnya sering tak menentu. Keadaan cuaca kerap kali terjadi hujan lebat disertai angin kencang pada malam hari dan terik pada siang hari.


“Secara biologis diperkirakan cuaca yang tidak menentu ini memainkan peran penting terjadinya penularan penyakit yang ditularkan vektor nyamuk Aedes aegypti,” tegas ahli nyamuk.

Sebelum memasuki musim penghujan, masyarakat bisa memanfaatkan waktu untuk menerapkan program 3M plus yaitu menguras, menutup, mengubur atau menimbun barang-barang bekas, dan menyikat bersih dinding tempat penyimpanan air.


“Beberapa tahun belakangan ini telah terjadi penularan DBD secara transovarial di daerah endemis DBD termasuk di Surabaya. Adanya kasus DBD setiap tahun di Surabaya menunjukkan adanya tendensi transovarial,” terang perempuan kelahiran Surakarta.
Ririh berpesan agar masyarakat juga senantiasa berperilaku hidup bersih dan sehat untuk meminimalisir angka kejadian DBD.




Reply


           


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2014 iAndrew  
Powered By MyBB, © 2002-2017 MyBB Group.